Aaaaa ayaahh.. Bikin kangen sama Salzburg aja -.-”
Cari dimana ya Republika hari ini, di sekitar RS rasa-rasanya, mmm ada ga ya yang jualan koran.
Anw, belum nyampe dua taun kok Yah x)
One and a half years ago, Salz x)
Perkenalkan, The Golden Water!
Arus listrik di otak lagi loncat-loncat nih, somehow. Dengan kata lain lagi ada beberapa hal yang lagi loncat-loncat di pikiran, apa ini flight of ideas? Hmmm.
Eh ternyata bisa langsung attach map! Hahaha maaf ya, mohon dimaklumi gue rada gagap teknologi. Baru sekarang coba-coba meng-eksplor windows live writer –.-“
Oia, ingin memperkenalkan Banyumas ahh.. ‘Banyu’ = air (indonesia) = water (english) dan ‘-mas’ (indonesia) = gold/golden (english), salah satu daerah di povinsi Jawa Tengah agak ke selatan, Indonesia. Dari arti per katanya tadi maka ada yang menyebutnya Banyumas aja, atau ‘Air Emas’, atau biar lebih g4oL pada bilang ’Golden Water’.
Sebelum fase rotaasi klinik ini gue juga ga ngerti tempat dan peta-peta kota di pulau jawa. Taunya paling cuma ibukota-ibukota provinsinya. Nah baru mulai tau pas koas ini, dimana emang diharuskan rotasi ke rumah sakit-rumah sakit pendidikan afiliasi di daerah. Salah satunya yang juga RS pendidikan utama ya RSUD di Banyumas. Untuk 9 (semibilan) minggu gue disini dalam rangka menjalani stase anak, ada baiknya gue harus tau dimana itu banyumas sebenarnya dalam globe bumi ini. Here it is!
Bukan Pemanggil Pasien
Aww. Ga jelas mau nulis apa. Cuma pengen aja nge-post sesuatu setelah sekian lama hibernasi >.< . Hmmm.. Oia! Ting! Mumpung sekarang lagi jaga IGD Banyumas sebagai koas anak, mau ngetik2 tentang per-IGD-an ahh.. Instalasi Gawat Darurat.
Ini jaga IGD kedua di stase ini (anak) dan luar kota ini (banyumas). Sebelumnya waktu jaga serupa 5 hari yang lalu, dapet 5 orang pasien anak dengan 2 (kalo ga salah) datang ke IGD sebelum gue dateng. Kejadiannya selalu abis satu pasien selesai atau dikirim ke bangsal mesti ada pasien baru lagi yang datang. Jadi ga sempet nganggur lama-lama. Kalo kata kakak minggu yang udah lebih dulu disini sih pasien IGD emang ga tentu kadang ga ada sama sekali dalam satu malam, kadang bisa sampe 7, dan nilai rata-ratanya sekitar 3-4 pasien lah katanya. Dan dalam waktu terakhir juga pasien ga begitu banyak.

Nah, pasien kemaren yang 5 orang datang gantian itu bikin dokter jaga IGD-nya bertanya, “Dek, kamu mandi pake sabun apa sebelum kesini? Kok pasiennya ada terus..”. Whaats?! Hmm. Emang apa hubungannya dok?? Masa kayak iklan, “wangi seksinya bikin pasien lupa diri” (?!). Yah segala sesuatu bisa dihubung-hubungin ya jadinya kalo harus menyimpulkan sesuatu yang ga jelas dalam waktu singkat. Padahal ya, temen sejawat yang jaga setelahnya, dapat pasien lebih banyak lagi (8 orang), dan yang setelahnya lagi belasan orang.. Tu kannn. Pake apa coba mandinya kalo kayak gitu.
Hari ini, jam 19.00 tetot jam jaga gue dimulai lagi, dan baru akan kriingg (tanda berhenti) besok pagi, eh, nanti pagi jam 07.00. Sekarang udah lewat tengah malam, and guess, how many patients did i meet tonight? S-a-t-u. Alhamdulillah
Tau aja gue baru abis jaga juga kemaren dan masih kurang (kebo) tidurnya.
Aniwei ini ada beberapa gambar RSUD BMS dan IGD-nya. Diambil waktu stase saraf sekitar 5 bulan yang lalu ^.^
Okay it’s time to go to bed now
ER’s under controled.
The pot.
Sometimes in our confusion, we see not the world as it is, but the world through eyes blurred by the mind.
My first donkey-feeding
Life is about limitation among the freedoms, isn’t it? :::))
I miss this donkey, ups, I mean, I miss this moment, this place, Innsbruck is.
Social place..
This is the real ward (bangsal) in Indonesia’s hospital. One room is filled by more or less 10 patients. Each patient is accompanied by more or less 2 family members. And about 6 young doctors followed each specialist doctor’s visite daily.
The question is, how many people at the moment this picture was taken??
JaMPer
Jaga malam pertama (jamper) yang benar-benar jaga malam. Saya, seorang koasisten baru bersama seorang residen saraf dan dua orang perawat, di unit stroke RSS. Ternyata bisa juga ini mata melek smape jam segini, ups, emang karena ga ada kasur yang bisa ditidurin ding. Hohoo.
Sedihnya disini, pertama, makan malam telat jadi pukul 23. Kedua, ga tega ngeliat keluarga yang sedih, nangis, ngeliat kondisi keluarganya yang lagi sakit. Tapo senengnya, pertama, ketika bisa meriksa dan menolong pasien barang sekecil apapun. Kedua, kalo bisa ngeliat keluarga yang sakit tetap tegar dan tetap senyum walopun lagi sedih. Ketiga, bisa lebih banyak doa dan syukur yang terucap, betapa masih beruntungnya kita dibanding pasien-pasien disini.
I’m asking and praying to God to keep everyone that I knew, that I love, always in a good state of health. Amiin
00.40
“Mba, saya mau selonjoran dulu ya, nanti jam 1 ibunya yang di bed 6 saya periksa lagi. Kalau ada apa-apa kasih tau ya mba”. Kata gue ke mba perawat yang waktu itu jaga bareng.
01.30
Tersadar tiba-tiba, langsung berdiri. Langsung gabung sama mba-mba perawat dan residen yang tau-tau aja udah disitu dan tampak sibuk. Bed 6 kritis! Dengan situasi kayak gitu gue langsung ‘IN’, mencoba meriksa apa aja yang gue bisa (refleks pupil dan kornea). Terus disuruh panggil keluarga si pasien, sambil dilakukan rekam jantung EKG (elektrokardiografi), udah PEA (pulseless electrical activity). Keluarga (suami dan kakak) pasien datang, suami mendampingi sang istri di saat-saat terakhir beliau.
01.45
EKG udah menunjukkan satu garis lurus. Innalillahi.
Me : “Dok, ke IGD lagi minta surat keterangan kematian?”
Dr. P : “Iya dek, sebentar ya saya nulis ini dulu, nanti sama sy ke IGDnya”
02.00
Jalan ke IGD RSS minta surat keterangan kematian untuk yang ke-3 kalinya malam itu. Untungnya, ga kayak 2x sebelumnya, kali ini gue ga sendirii.














