Bijak-bijuk-bijek –__o

Ga sengaja baca tulisan ini:

“Only trust someone who can see these three things in you: the sorrow behind your smile, the love behind your anger, and the reason behind your silence.” -posted by someone.

What do you think??
Is there any ‘perfect’ person who can and will do these for you?
And could you do these too to person that perfectly you care about?

Me, just wonder :)

Noted to self!

Never expect others to be responsible for your happiness.

They have their own problems, and are trying to survive and succeed just like everybody else.

Take full responsibility for your own happiness.

It is your life. Decide to be happy.

It is not easy. But it is more difficult to live in sadness.

Oret-oretan koas obgyn!

“Only mothers can think of the future-because they give birth to it in their children.” -Maxim Gorky

“Dila lahir 2,98 kg. Fiki 3,8 kg, Alle 3,4 kg.” –Bundaku.  ‘Berarti dila paling kecil dong, Bun =(.’ ‘Iya, tapi mereka kan cowok =).’

Terakhir kali nunggu keluarga yang mau lahiran itu bulan Juli tahun 2006. Uncu (tante) yang lagi hamil anak ke-2, kebetulan tinggal bareng di rumah. Jadi benar-benar (merasa) ikut dan (sok) tahu dalam proses kelahirannya. Only fyi, I was still a senior high school student at that time.

April 25th, 2012. 00:25.

Saya duduk di nurse station kamar bersalin sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) salah satu daerah di jawa Tengah, sebagai seorang dokter muda (koas) kandungan dan kebidanan (obgyn). Para bidan dan akbid yang juga jaga malam udah pada masuk kamar masing-masing untuk sekedar tiduran sejenak. Saya? masih nunggu beberapa menit kagi karena mau injeksi obat ke pasien.

*Balik lagi ke Juli 2006*

Uncu kala itu udah masuk ke kamar bersalin selama 2 hari (kalau ga salah). Dulu ga ngerti masuknya karena apa, cuma ‘oh mungkin udah waktunya lahir’. Sekarang baru sedikit lebih ngerti dan menerka-nerka, mungkin waktu itu uncu udah mulai merasa his (kenceng-kenceng) ya, atau karena udah keluar lendir darah, atau bisa juga karena air ketubannya sudah pecah. Tapi udah 2 hari di rumah sakit kok ga lahir-lahir juga bayinya. Ada apa? Kata dokter waktu itu harus diinduksi. Saya kala itu cuma bisa ‘ohh..ya ya..’ sambil manggut-manggut. Sekarang baru tau diinduksi itu salah satu yang disebut orang awam dipacu, mempercepat kelahiran. Dan ada 2 istilah sebenarnya, induksi dan stimulasi. Bedanya, induksi itu dilakukan saat udah seharusnya lahir (karena berbagai faktor) namun mulut rahim tempat turunnya janin belum membuka sama sekali (dimulai). Kalau stimulasi, udah dalam proses persalinan, mulut rahim membuka, tapi setelah jangka waktu tertentu ga ada kemajuan pembukaannya, jadi distimulasi. Obat dan dosis yang digunakan pun beda.

Jadi mengkhayal. Kalau aja Juli 2006 itu saya udah jadi koas, mungkin akan bisa nolong uncu sendiri untuk melahirkan sepupu sendiri. Oia, karena ga maju-maju persalinannya kala itu, akhirnya tanggal 3 Juli 2006 dokter memanggil om ku untuk bicara empat mata. Dokter menjelaskan keadaan istri dan janinnya, dan menyarankan untuk dilakukan operasi caesar demi keselamatan dan kesehatan keduanya. Ahh..lagi-lagi mengkhayal, andai saja waktu itu udah jadi koas mungkin bisa ikut masuk dan bicara dengan dokter, dan mungkin saja bisa ikut operasinya juga!

Ini yang ditunggu-tunggu! ^^

“Let your Father and your Mother be glad, and let her rejoice who gave birth to you.” — Proverb

April 25th, 2012. 15:30.

Saya sedang di tempat yang sama (nurse station kamar bersalin). Bukaan. Bukan karena tinggal disini. Bukan juga karena ga pulang-pulang. Dan jelas bukan karena disandera atau diikat disini. Tapi emang ini jadwal saya jaga sore (lagi).

Yang menarik yang saya amati selama disini adalah.. it’s so damn true that destiny, luck, fate, and life…………………….. *to be continued, be right back, ada yang mau partus (lahiran!)*

Alhamdulillaah.. partus yang barusan saya tolong berjalan lancar dan relatif cepat. Salah satu partus yang cukup sukses menurut saya, dalam beberapa indikator lainnya: lahir spontan (normal lewat vag*na tanpa bantuan alat), ejanan ibu adekuat, bayi cepat turun dan lahir (ga kelamaan di pintu panggul), jalan lahir ga digunting atau dilebarkan, dan bayi lahir sehat langsung menangis, dan gendut pula, cewek 3,65 kg *.*

Itu dia salah satu yang menarik disini. Saya menyaksikandan melihat langsung proses persalinan seorang ibu dan bagaimana partisipasi dan respon suami serta keluarga. Ada partus yang dramatis, melankolis, the tough one, the spirited one, ibu yang manja, yang kayak anak kecil jejeritan, the so-quick-delivery, the long labor, ada yang melahirkan dengan bersih, namun ada juga yang kotor. And of course, it’s aither sad or happy ending.


“If men had to have babies, they would only ever have one each.” -Princess Diana

“It’s like childbirth. It’s uncomfortable, painful, sometimes bloody, but you’re always being stretched.” -Dr. Howard Tullman

“The pains of childbirth were altogether different from the enveloping effects of other kinds of pain. These were pains one could follow with one’s mind.” -Margaret Mead

April 25th, 2012. 17:30.

Satu setengah jam lagi menuju berakhirnya sesi jaga kali ini. yeayy! \=D/

*NB: di penghujung sesi jaga hari ini ternyata ada partus lagi! Alhamdulillah, bisa nolong 2 partus dalam 5 jam jaga ^^

Tschussss…

How it’ll be, the future..

Hari ini ngumpul lagi sama temen2 dekett.. Senang. Tanpa sadar ternyata kangen juga gue sama mereka, cerita2 panjang lebar yg ngalor ngidul, cerita kabar sehari-hari masing-masing, pengalaman2 terbaru, rencana ke depan, dan yg paling seru kalo udah rencana jalan-jalaan.. Yaah walopun sebagian besar cuma berakhir sampe rencana aja sihh, krn kesibukan masing-masing. Hehehe tapi gue cukup senangg.

Sebenernya setelah masuk dunia koas ini jadi jarang banget pergi sama mereka. Ketemu juga sekali-sekali. Nah paling kesempatan klo lagi ada yg ultah gini yang bikin qt ngumpul lagi. Yang kali ini dalam rangka ultahnya dewii.

Seiring terbangnya waktu secara ga sadar membawa perubahan juga pada content obrolan kami. Masa-masa S1 dulu paling seputar perkuliahan, dosen2, cowok atau gebetan msg2 (ups, ketauan), tugas2 kuliah, tempat makan baru, film2 bagus, dan seputaran itu.. Tapi makin kesini pembicaraan mulai tambah ‘berat’ ke masalah2 hidup dan masa depan.

Setelah ketemuan sm mereka hampir setengah hari ini, walopun sebentar dibanding lamanya ga ketemu dari sebelumnya, tapi cukup menggugah gue untuk memikirkan dan meresapi ‘isi’ apa yg udah kita bicarakan. Sampe pengen ngepost di blog lagi. Hehehe.

Membicarakan masa depan, salah seorang diantara kami ber-5 sudah memiliki planning yang jelas mengenai hidupnya. Sudah mempersiapkan dan memantaskan diri untuk menjadi pasangan hidup seseorang. Seorang lagi yang belum lama mulai menjalin hubungan baru dengan seseorang nampaknya memiliki prognosis yang lebih baik dari sebelumnya (disetujui orang tua). Yang lain ada yang baru saja mendapat pencerahan setelah menjalani umroh. Dan yang lain lagi juga tampak lebih dewasa dan enjoy dengan kehidupannya sekarang dan terlihat belajar banyak dalam proses rotasi klinik ini. Sedangkan gue?

Gue merasa jalan di tempat. Gue bertanya ke diri sendiri, apa yang udah gue kerjakan sampai sekarang? Seberapa bermanfaat gue buat orang lain? Sudahkah gue bisa membuat orang tua bahagia? Apa planning gue untuk masa depan gue, untuk 5 tahun ke depan, untuk satu tahun ke depan, untuk setengah tahun ke depan, untuk beberapa bulan bahkan hari ke depan? Mau jadi apa gue? Mau kemana setelah jadi dokter? Kapan gue siap untuk menikah? Apakah gue udah pantas untuk itu? Dengan siapa? Apakah udah benar apa yg gue jalani sekarang? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang untuk saat ini belum bisa gue jawab, bikin bingung :s

Dengan kata lain, gue belum tau masa depan apa yang gue inginkan. Seharusnya mungkin gue lebih spesifik untuk itu. Yang gue tahu sekarang gue menjalani apa yang ada aja, untuk ke depannya harapan gue standar seperti kebanyakan orang, live happily ever after, bahagia dunia-akhirat.

Tapi sekali lagi, mungkin doa gue belum spesifik, usaha gue belum spesifik. Makanya gue masih seperti jalan di tempat. Sebenarnya gue hanya mencoba selalu bersyukur dan ga neko-neko. Gue lebih seperti air di hulu sungai yang mengalir dan meyakini pasti semua akan berakhir di hilir (laut), dan berharap apapun hilirnya itu adalah hilir terbaik dan paling indah.

Sejak obrolan hari ini sama temen2, walopun ga secara eksplisit diutarakan, gue sadar, masa depan itu seharusnya diciptakan bukan sekedar menunggunya datang. Gue mendapat inspirasi dan masukan banyak dari temen gue yg dengan spesifik ikhtiar, berdoa, dan tawakal untuk mencapai masa depan harapannya. Dan alhamdulillah ketika memang niatnya baik, jalannya selalu lebih mudah.

Gue udah sering dengar cerita lika-liku perjalanan hidup beberapa orang, sampai paling tidak gimana akhirnya bertemu dengan jodoh masing2 dan mulai menjalani tahap kehidupan selanjutnya. Jalannya beda-beda memang, kebanyakan berakhir bahagia, meskipun beberapa belum sampai pada akhir bahagianya karena ternyata pilihan mereka belum tepat, dan Allah masih bilang ‘tunggu’.

Balik lagi refleksi ke diri gue sendiri. Perjalanan hidup seperti apa yang gue punya? Flat? Standar? Ikut arus? Happy ending?

I have to make a change. For my life, for better future, for my parents, for my family, for my belief, for the people around, and perhaps for my country and my world.

Mungkin dengan umur segini telat buat gue mengatur dan merencanakan masa depan, tapi sering denger ‘ga ada kata terlambat’ kan…
The future belongs to those who believe, and at least from now on I start to believe it :)

Satu key tips dari temen gue yang udah bisa merencanakan dan mendapat pencerahan untuk masa depannya adalah selalu percaya dan berdoa sama Allah swt. Dan supaya doa-doa qt diijabah Allah qt jg harus memantaskan diri. Jadi lah pribadi yg ‘cantik’ luar-dalam. Jadilah anak soleh yg doanya untuk kedua orang tua didengar Allah. Selagi qt di jalan yg benar jangan takut untuk sedih, jangan takut untuk kecewa. Semua akan indah pada waktunya :)

Dear Allah swt,
Sometimes it’s hard for me to understand what You really want to happen.
But I trust You.
I know You’ll give me what’s best =)

Perkenalkan, The Golden Water!

Arus listrik di otak lagi loncat-loncat nih, somehow. Dengan kata lain lagi ada beberapa hal yang lagi loncat-loncat di pikiran, apa ini flight of ideas? Hmmm.

Eh ternyata bisa langsung attach map! Hahaha maaf ya, mohon dimaklumi gue rada gagap teknologi. Baru sekarang coba-coba meng-eksplor windows live writer –.-“

Oia, ingin memperkenalkan Banyumas ahh.. ‘Banyu’ = air (indonesia) = water (english) dan ‘-mas’ (indonesia) = gold/golden (english), salah satu daerah di povinsi Jawa Tengah agak ke selatan, Indonesia. Dari arti per katanya tadi maka ada yang menyebutnya Banyumas aja, atau ‘Air Emas’, atau biar lebih g4oL pada bilang ’Golden Water’.

Sebelum fase rotaasi klinik ini gue juga ga ngerti tempat dan peta-peta kota di pulau jawa. Taunya paling cuma ibukota-ibukota provinsinya. Nah baru mulai tau pas koas ini, dimana emang diharuskan rotasi ke rumah sakit-rumah sakit pendidikan afiliasi di daerah. Salah satunya yang juga RS pendidikan utama ya RSUD di Banyumas. Untuk 9 (semibilan) minggu gue disini dalam rangka menjalani stase anak, ada baiknya gue harus tau dimana itu banyumas sebenarnya dalam globe bumi ini. Here it is!

1. Cari benua Asia
1. Cari benua Asia

 

2. Lihat pada Asia bagian tenggara
2. Lihat pada Asia bagian tenggara

 

3. Terdapat suatu negara kepulauan terbesar disana bernama Indonesia
3. Terdapat suatu negara kepulauan terbesar disana bernama Indonesia

 

4. Cari salah satu pulau terbesar yang memanjang di selatan, named Java
4. Cari salah satu pulau terbesar yang memanjang di selatan, named Java

 

5. Look at the central-south part of the Island
5. Look at the central-south part of the Island
 
6. It’s gonna be in between Cilacap and Yogyakarta, near Purwokerto
6. It’s gonna be in between Cilacap and Yogyakarta, near Purwokerto

 

7. Zooming in
7. Zooming in

 

8. Then the named emerges, Banyumas
8. Then the named emerges, Banyumas

 

9. ...and, Voila! Welcome to Golden Water!
9. …and, Voila! Welcome to Golden Water!

Bukan Pemanggil Pasien

Aww. Ga jelas mau nulis apa. Cuma pengen aja nge-post sesuatu setelah sekian lama hibernasi >.< . Hmmm.. Oia! Ting! Mumpung sekarang lagi jaga IGD Banyumas sebagai koas anak, mau ngetik2 tentang per-IGD-an ahh.. Instalasi Gawat Darurat.

Ini jaga IGD kedua di stase ini (anak) dan luar kota ini (banyumas). Sebelumnya waktu jaga serupa 5 hari yang lalu, dapet 5 orang pasien anak dengan 2 (kalo ga salah) datang ke IGD sebelum gue dateng. Kejadiannya selalu abis satu pasien selesai atau dikirim ke bangsal mesti ada pasien baru lagi yang datang. Jadi ga sempet nganggur lama-lama. Kalo kata kakak minggu yang udah lebih dulu disini sih pasien IGD emang ga tentu kadang ga ada sama sekali dalam satu malam, kadang bisa sampe 7, dan nilai rata-ratanya sekitar 3-4 pasien lah katanya. Dan dalam waktu terakhir juga pasien ga begitu banyak.

Banyumas-20110523-00212

Nah, pasien kemaren yang 5 orang datang gantian itu bikin dokter jaga IGD-nya bertanya, “Dek, kamu mandi pake sabun apa sebelum kesini? Kok pasiennya ada terus..”. Whaats?! Hmm. Emang apa hubungannya dok?? Masa kayak iklan, “wangi seksinya bikin pasien lupa diri” (?!). Yah segala sesuatu bisa dihubung-hubungin ya jadinya kalo harus menyimpulkan sesuatu yang ga jelas dalam waktu singkat. Padahal ya, temen sejawat yang jaga setelahnya, dapat pasien lebih banyak lagi (8 orang), dan yang setelahnya lagi belasan orang.. Tu kannn. Pake apa coba mandinya kalo kayak gitu.

Hari ini, jam 19.00 tetot jam jaga gue dimulai lagi, dan baru akan kriingg (tanda berhenti) besok pagi, eh, nanti pagi jam 07.00. Sekarang udah lewat tengah malam, and guess, how many patients did i meet tonight? S-a-t-u. Alhamdulillah :) :) Tau aja gue baru abis jaga juga kemaren dan masih kurang (kebo) tidurnya.

Aniwei ini ada beberapa gambar RSUD BMS dan IGD-nya. Diambil waktu stase saraf sekitar 5 bulan yang lalu ^.^

Banyumas-20110528-00300Banyumas-20110528-00304IMG-20110528-00303

Okay it’s time to go to bed now ;) ER’s under controled.